Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melawan Jenuh


Oleh: David Efendi

Melawan jenuh tidak jauh lebih mudah dari pada melawan tambang atau melawan penindasan. Terutama sekali, melawan jenuh untuk berbuat baik dan menegakkan kebenaran. Setiap manusia punya siklus kejenuhan di dalam aktifitas dan rutinitasnya. Seorang pegiat  ham, komunitas, literasi, dan aktifis mahasiswa punya ancaman rasa jenuh masing masing. Seperti keimanan, kadang naik dan kadang turun. Ada masa pasang dan surutnya.

Melawan jenuh adalah melawan kemalasan. Kata seorang sahabat nabi, malas adalah sumber dari segala persoalan maksiat. Ya tafsirnya mungkin banyak arti. Tapi kemalasan memang perkara luar biasa. Malas melakukan kebaikan adalah pangkal hilangnya rasa kemanusiaan.

Lalu pertanyaannya, bagaimana rasa jenuh itu dapat dihilangkan? Wah kalau menghilangan itu sulit sekali ya tapi bisa jadi bisa dilakukan. Kalau saya lebih pada meminimalisir dampak kejenuhan itu bagi dirinya dan kelompoknya. Caranya? Ya di saat jenuh seringkali bosan dan malas mendekat sehingga tak mampu berfikir dan berefleksi secara jernih. Wajar saja, banyak lembaga menelurkan kegiatan refreshing, outbound, penyegaran tim, up grading, dst. Tapi pilihan kegiatan itu juga tak sepnuhnya mampu melawan rasa jenuh. Kadang melawan rasa jenuh itu dari hal sepele, misalnya "rasa terlibat" dalam komunitas itu sangat penting. Menjadikan semua orang itu penting kehadirannya dalam komunitas adalah suatu keniscayaan--ini gampang gampang sulit karena kesibukan masing masing pegiat kadang tak sempat menyapa teman teman yang baru terlibat. Justru yang muncul seringkali monopoli pahala yang dilakukan pegiat lama sehingga akar akar pegiat baru dalam komunitas sedikit bnyak terhambat.

Kedua, keakraban personal atau ikatan emosional akan menghambat proses penjenuhan. Banyak cara dilakukan untuk memupuk keakraban misal dengan makan, pergi bersama dan mengetahui situasi batin satu sama lainnya.

Salah satu penyebab kejenuhan adalah termasuk oprientasi terlibat dalam kegiatan komunitas. Misalny, aktualisasi ilmu, sharing,sosialisasi, pupularitas, dan uang misalnya. Jika tak terpenuhi orientasinya maka kejenuhan akan menyergap sewaktu waktu.

Pegiat yang aktif selalu memperlihatkan warna keterlibatan di dalam komunitasnya. Pro aktif dan sportif juga bagian dari mantra pejinak kejenuhan. Aktif artinya selalu mencari hal hal positif yang dapat dilakukan untuk merawat semangat dan memajukan komunitasnya. Setidaknya dia penting bagi dirinya sendiri dalam melakukan aktifitas sehari hari. Pegiat aktif kadang seringkali memikirkan komunitas di WC, di tempat tidur dan dalam mimpinya.

Kembali ke urusan melawan kejenuhan. Keyakinan saya adalah bahwa setiap orang punya cara sendiri mengusir rasa jenuh sehingga tak ada obat generik universal untuk atasi rasa jenuh. Sebagaimana ilmu medis katakan, di dalam diri mahluk hidup ada mekanisme "self-healing" untuk mengatasi patologi. Misalnya "stress" tiap orang punya caranya. Mungkin pembaca sependapat walau tak harus sepakat.