Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gagal PIMNAS, Tapi Kalahkan 90 Negara!



Oleh : dr. Gamal Albinsaid

Tulisan ini saya buat sebagai klarifikasi saya atas tulisan Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB, atas surat terbukanya yang hari ini banyak mendarat di ponsel saya. Beliau adalah seorang professor muda, guru, sahabat, dan inspirasi saya. Saya ingin mengklarifikasi atas tulisan beliau yang menyebut saya “GILAA!” :)

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si mengatakan, “Saat tahu UB juara umum ingatan saya langsung melayang ke seorang dokter muda, Gamal Albinsaid yang sudah mendunia prestasinya: memecahkan dua akar masalah di negara berkembang: akses berobat dan sampah, dengan satu kegiatan socioenterpreneur. Berbincang cukup lama dengan beliau beberapa hari lalu; menyaksikan aksinya di atas panggung saat menjadi pemateri: GILAA!”
Pertama-tama saya ingin mengkonfirmasi bahwa saya masih dalam keadaan sehat wal afiat dan tanpa gangguan kejiwaan apapun. Tulisan ini saya buat setelah Shalat Jum’at dalam keadaan baik, sehat, dan tanpa paksaan. :)

Kedua, dengan penuh kerendahan hati dan berharap hikmah tersebar, ijinkan saya bercerita tentang perjalanan program Klinik Asuransi Sampah yang sempat gagal PKM dan tisak lolos PIMNAS, namun mendapatkan kesempatan menebarkan manfaat dan kebaikan dengan caranya sendiri. Poin kedua ini saya tujukan untuk anda yang pulang PIMNAS tanpa medali.

Guru sayalah yang menginspirasi saya dan menghantarkan saya sampai titik ini, dr. Rita Rosita, M.Kes. Guru yang penuh kesederhanaan, kerendahan hati, dan penuh dedikasi. Saya masih ingat, ketika sahabat saya bercerita, bahwa dr. Rita pernah memberikan kuliah di depan kelas dan menyampaikan bahwa beliau praktek di bayar lebih murah dari semangkok bakso. Beliau mengembangkan sebuah asuransi mikro dengan premi 1.000 rupiah setiap bulan.

Kuliah tersebut membuat saya dan kawan saya, Muhammad Maulana, menemui beliau di ruangannya dan mengajak 3 kawan kami yang lain untuk membuat sebuah program sosial. Disitulah kami memodifikasi program asuransi 1.000 rupiah menjadi asuransi sampah.

Lalu saya dan keempat sahabat saya lembur untuk membuat proposal PKM, kami berhasil lolos pendaan PKM, namun tidak sampai singgah di PIMNAS, dan inovasi kebaikan itu berhenti. Setahun kemudian, saya menyayangkan program kami berhenti, lalu saya ke ruangan dr. Rita Rosita dan menitipikan program itu ke adik-adik saya di organisasi kampus untuk melanjutkan program itu. Namun 6 bulan kemudian, program itu tutup kembali.

Di akhir tahun 2012, saya tergelitik menghidupan program itu kembali saya kumpulkan seluruh tabungan saya untuk mengembangkan program itu di sebuah perumahan, lalu saya memutuskan membuat sebuah perusahaan untuk mengembangkan berbagai inovasi, Indonesia Medika. Saya menemukan kisah anak pemulung bernama Khaerunissa sebagai semangat utama menjalankan ide dan gagasan ini, Apa yang terjadi kemudian? Klinik Asuransi Sampah mengalahkan 511 pengusaha dari 90 negara, dan menghantarkan perusahaan kami meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional, dan tercatat di tahun 2014 lebih dari 50 organisasi/perusahaan/pemerintah daerah mereplikasi ide kebaikan ini.

Tulisan ini saya buat untuk anda yang kalah PIMNAS. Saya bersyukur pada saat itu karena tidak lolos PIMNAS, karena Allah sedang membesarkan ide dan gagasan ini dengan cara yang lebih indah. Sometimes we need to lose the small battles inorder to win the war. Itu ceritaku, apa ceritamu?