Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rahasia Sultan Mehmed II Turki Usmani dalam Menakhlukkan Constantinople - The city of the world's desire


Sultan Mehmed II dari Kerajaan Turki Usmani mampu menakhlukkan Konstantiopel pada tahun 1453 M. Konstantinopel yang merupakan ibu kota kerajaan Byzantium (representasi Kristen Katolik Eropa Timur) selama ratusan tahun telah menjadi agenda perang penting bagi kaum muslim. Bahkan penakhlukkan konstantinopel merupakan bisyarah Nabi yang dijanjikan oleh Allah. 

"Sungguh Konstantinopel akan ditakhlukkan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menakhlukkannya" (HR Ahmad)

Kesalehan pribadi Sultan Mehmed II yang menjadikan beliau begitu spesial sehingga terpilih menjadi penakhluk Konstantinopel. Hal ini terbukti ketika suatu hari, muncul persoalan pada saat pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum'at yang kali pertama di Konstantinopel. "Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum'at?"

Namun tidak ada seorangpun yang berani menawarkan dirinya. Melihat hal itu, Sultan Mehmed segera bangun dari tempat duduknya dan meminta kepada seluruh jama'ah untuk sama-sama berdiri. Kemudian dia bertanya, "Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silahkan duduk?!"

Subahanallah! Mahasuci Allah! Tidak ada seorangpun diantara pasukan islam yang duduk. Semuanya masih tegak berdiri. Artinya pasukan islam yang dipimpin Sultan Mehmed sejak mereka remaja hingga pada hari itu, tidak ada seorangpun yang pernah meninggalkan shalat wajib. Tidak sekalipun, mereka melalaikan shalat fardhu. 

Mehmed tersenyum, kemudian bertanya untuk kali kedua: "Siapa diantara kalian yang sejak akil baligh dahulu hingga pada hari ini, pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat rawatib sekali saja, silahkan duduk!". 

Sebagian diantara pasukan islam yang merasa pernah meninggalkan shalat rawatib, mereka segera duduk. Namun, sebagian besar diantara pasukan islam saat itu masih berdiri tegak. Artinya sejak masa remajanya, mereka tidak pernah meninggalkan shalat rawatib, yaitu shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur. 

Sultan Mehmed pun kembali berseru sambil mengedarkan matanya kepada seluruh pasukanya yang masih berdiri tegak: "Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Bagi yang merasa pernah meninggalakan atau kosong satu malam saja, silakan duduk?!"

Apa yang terjadi? Pasukan islam yang sebelumnya masih banyak yang berdiri tegak dengan segera mereka duduk rapih kembali. Namun, ada pemandangan yang menabjubkan, ternyata ada seorang yang masih tetap tegak berdiri. Dia adalah Sultan Mehmed II bin Murad II, sang penakhluk Konstantinopel. Dialah yang pantas menjadi imam shalat jum'at pada hari itu karena hanya dialah yang sejak akil baligh dan usia remajanya selalu mengisi kesunyian malamnya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak kosong semalampun. Subhanallah!

Berkat jiwa kepahlawanan, keberanian, kecerdasan, kesalehan dan prestasinya inilah, Mehmed II bin Murad II diberi gelar Al Fatih. Itulah sebuah kisah sejarah yang begitu indah dalam bingkai ketaqwaan kepada Allah SWT. 

Sumber: Felix Y. Siauw. 2014. Muhammad Al Fatih 1453. Jakarta: Al Fatih Press.